Home »
Vespa Gembel
» Kumal tapi Cinta Kebersihan dan Taat Aturan
Kumal tapi Cinta Kebersihan dan Taat Aturan
Written By Unknown on Selasa, 08 Januari 2013 | 08.36
Tampilan sebuah Vespa kumal dengan gantungan kaleng bekas oli, kaleng minuman, botol plastik, potongan kain, spanduk kumal, jerami, sampai celana dalam, sering kita temui melintas di jalanan. Kendaraan bermotor seperti itu tentu membuat penilaian yang beragam di masyarakat. Bagaimana tanggapan para pecinta sepeda motor jenis skuter itu atas tudingan yang dianggap miring tersebut?
RAUNGAN suara knalpot memecah suasana sore di Jalan Setia Budi, Srondol, Banyumanik, Semarang. Hampir semua mata di sekitarnya mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Sebuah kendaraan bermotor jenis skuter penuh dengan ”hiasan” sampah pelan melintas. Kecepatannya tak sebanding dengan suaranya yang kencang memekakkan telinga.
Kendaraan yang berjalan tak lebih dari 40 kilometer per jam itu hendak menuju Ungaran, Kabupaten Semarang. Jika diamati lebih dekat, kendaraan bermotor tersebut ternyata sebuah skuter merek Vespa yang dirombak sedemikian rupa. Vespa rombeng tahun 1970-an atau 1980-an yang dimodifikasi sesuka mereka.
Bentuknya aneh, misalnya setang tinggi menjulang. Komunitas mereka menyebut model ini sebagai vespa setang monyet karena pengendaranya terlihat seperti monyet sedang menggelayut di batang pohon. Ada yang menambahi gerobak atau sespan di sampingnya. Ada pula yang menceperkan dan memanjangkan badan vespa hingga bermeter-meter, ada yang 2 meter, adapula yang sampai 8 meter.
Ciri khusus vespa model seperti ini adalah kotor. Maklum, penggemarnya sengaja tidak mencucinya berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Tampilan vespa makin terlihat kumuh karena penggemarnya kerap menempelkan aneka ”sampah” sebagai aksesori. Mulai dari karung goni, drum bekas, galon air, sandal jepit, CD, selongsong mortir, botol infus, tengkorak sapi, hingga (maaf) celana dalam, batu nisan dan lain-lain. Jika dibilang sebuah sepeda motor, sepertinya sudah ”menyalahi kodrat”.
Namun, tudingan masyarakat yang beragam seperti tidak menaati peraturan lalu lintas, atau kotoran berjalan, dianggap angin lalu oleh para scooterist, sebutan untuk komunitas pecinta vespa atau skuter ini. Namun, sikap mereka ternyata tak sekumuh penampilannya. Mereka tetap menaati peraturan yang berlaku di jalan.
Penuh Warna
Salah satu dari mereka mengusung bendera Komunitas Vespa Orang Semarang (VOS). Kelompok penggemar vespa yang memiliki markas di Jalan Kumpulsari No 1 RT 2 RW 3 Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang ini menyebut kendaraan mereka vespa ekstrem.
Pengurus VOS Hari Setyawan (22) menjelaskan, komunitas yang berdiri tahun 2001 ini sudah ”kebal telinga” disebut sebagai komunitas preman, gembel atau tidak patuh terhadap hukum. Terutama kepada delapan anggotanya yang memakai vespa ekstrem. Sebutan itu justru membuat komunitas yang memiliki 25 anggota ini makin eksis dan dikenal hingga ujung pulau Sumatera dan Bali.
”Kami juga manusia biasa yang memiliki akal, pikiran dan hati nurani. Jangan asal melihat dari penampilan saja. Surat-surat kendaraan kami lengkap, kami warga yang taat terhadap hukum,” ujarnya.
Mengembara dengan vespa kesayangan dari kota ke kota adalah wujud betapa vespa menjadikan hidup mereka penuh warna. Dalam perjalanan itu juga, solidaritas di antara sesama pengguna vespa nyentrik itu terwujud. Saling melambaikan tangan atau hormat antarpengendara sebagai ciri khas yang konon tak pernah dilakukan oleh pengendara motor lainnya. Bahkan, saat pengendara vespa melihat ada pengendara vespa lainnya mogok di pinggir jalan, meski belum saling mengenal, mereka akan berhenti dan membantu agar bisa berjalan lagi.
”Ini yang membedakan dan menjadi ciri yang tak ada duanya dengan pengguna motor lainnya. Saya pernah kehabisan uang dan bensin di Ngawi, Jawa Timur, saya ditolong oleh pengendara vespa yang awalnya tidak kenal dan sekarang seperti keluarga saja,” ungkap Owol, panggilan akrab Hari Setyawan .
Sedangkan ”sampah” yang menggantung di belakang dan depan vespa, menurutnya, bukan sampah yang mengotori jalanan. Para scooterist justru turut membantu pemerintah dalam menjaga kebersihan lingkungan. Kaleng bekas dan botol minuman yang dibawa ini sebenarnya dikumpulkan oleh scooterist di jalanan. Setelah barang bekas terkumpul banyak, dijual ke tukang rosok. Sementara barang yang tidak laku, dibiarkan menggantung.
”Uang hasil penjualan barang-barang itu untuk beli bensin dan makan saat melakukan touring,” tandasnya.
Touring dari kota ke kota lain dan menyambangi komunitas pecinta motor buatan Enrico Piaggio tahun 1884 ini, scooterist tak pernah membawa bekal yang cukup. Maklum, penggemar vespa mayoritas adalah masyarakat dengan ekonomi kelas bawah. Mengumpulkan barang bekas adalah solusi mereka agar tetap bisa berjalan, selain berhenti di samping lampu merah untuk mengamen.
Ketua Mbrebet Scooter Team, Sofyan (37) menambahkan, para pengguna vespa ekstrem biasanya memodifikasi dengan bermacam gaya, ada yang classic atau standar, chopper atau ceper, serta berbagai macam aliran modifikasi bebas lainnya.
Syarat untuk menjadi anggota komunitas vespa ini sangat gampang, yakni memiliki vespa yang harganya murah, dan mau ngumpul. Sedangkan untuk iuran, komunitas ini tidak membatasi jumlahnya. Alasannya, menyesuaikan kemampuan ekonomi anggota. Iuran itu biasanya digunakan untuk kegiatan sosial, seperti membantu anggota komunitas yang sakit, anggota yang menikah, istri anggota yang melahirkan atau anggota yang benar-benar tidak mampu membeli beras. Tak ada aturan yang mengikat, karena komunitas ini memang tidak memiliki anggaran dasar maupun anggaran rumah tangga (AD/ART).
”Organisasi yang bebas tapi menjunjung tinggi kekeluargaan, itu semangat yang tak boleh hilang dari komunitas vespa. Kalau orang kaya bisa pamer kemewahan, kita bisa pamer kegembelan atau keekstreman,” tukas bapak satu anak ini.
Ketua Scooter Djadoel Society, Miftakhul Huda (38) berpendapat, tampilan vespa ekstrem merupakan bentuk kebebasan yang ditunjukkan oleh pemakainya. Meski anggotanya tidak dilarang menggunakan vespa jenis ini, dia menilai vespa ekstrem sebagai bentuk pemakainya yang ingin mencari sensasi tersendiri saat melintas di jalanan.
”Kami tidak mengotori jalan, karena hanya vespa kotor saja yang lewat,” kata Nur Khamdani (28), warga Jalan Patemon Raya, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.
Jejaring komunitas vespa sangatlah kuat hingga ke kota-kota lain di luar Pulau Jawa. Mereka saling mengunjungi, saling membantu dan saling mendoakan. Ada aturan tidak tersurat ketika sebuah komunitas lain yang mampir ke markas mereka, yakni kewajiban menjamu. Menyediakan makanan, tempat menginap sederhana, kadang juga membantu uang bensin. ”Dengan vespa, kita satu keluarga”, itulah semboyan mereka.
Label:
Vespa Gembel


.jpeg)
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !